BERITA

Industri Otomotif Berpacu Menggunakan Mesin Diesel

BICARA soal kendaraan bermotor, khususnya mobil, selain model yang cantik dan harga yang kompetitif, konsumsi bahan bakar yang irit merupakan salah satu penentu bagi pembeli sebelum memutuskan membeli sebuah mobil. Masalahnya, kini tidak sedikit dari pembeli menghendaki mobil jenis sport utility vehicle yang bertenaga besar karena ditunjang mesin yang juga berkekuatan besar. Jelas muncul dua hal yang boleh dikatakan sangat sulit untuk bisa bertemu.

Mobil yang irit konsumsi bahan bakar jelas sangat berseberangan dengan sport utility vehicle (SUV) dengan mesin bertenaga besar yang bisa dipastikan sangat haus bahan bakar. Meski demikian, tetap saja ada upaya untuk bisa membuat dua kutub berseberangan ini saling mendekat. Upaya ini yang kini sedang dilakukan para produsen mobil terkemuka dunia.

Harian The Asian Wall Street Journal akhir Juli lalu melaporkan, kini kalangan industri mobil dunia sedang berlomba untuk memperbaiki kinerja mesin mobil SUV yang dikenal haus bahan bakar itu.

Cara yang ditempuh bukan mencoba mengembangkan mesin dengan teknologi masa depan, seperti mobil bertenaga listrik, mesin dengan sistem sel bahan bakar, atau menggunakan gas hibrida. Tetapi, lebih memperbaiki kinerja mesin diesel yang lebih bertenaga, namun bersih alias ramah lingkungan.

Mesin diesel sejauh ini masih digambarkan hanya tepat untuk truk, kendaraan berat, traktor, dan sejenisnya. Namun, dalam perjalanannya, belakangan ini mesin diesel mulai digunakan pada mobil-mobil berukuran sedang bahkan juga jenis mobil penumpang seperti sedan. Penjualan mobil baru bermesin diesel pun terus mencatat pertumbuhan yang signifikan akhir-akhir ini.

Sekitar 40 persen dari mobil baru yang terjual di Eropa akhir-akhir ini bermesin diesel. Demikian pula setengah dari mobil bak terbuka yang terjual di Amerika Serikat bermesin diesel bertenaga besar. Suatu hal yang mendorong tren ini antara lain karena mesin diesel generasi terbaru yang disandang mobil-mobil ini lebih hemat bahan bakar hingga 30 persen dibanding mobil sejenis dengan bahan bakar bensin.

Hal lain yang juga mendorong minat pembeli mobil bermesin diesel ini adalah tenaga mesin yang dihasilkan ternyata nyaris mirip mesin bensin. Torsi yang memadai membuat mesin ini memiliki akselerasi yang tinggi. Hanya saja, mesin diesel tetap masih menyimpan kelemahan, seperti asap hitam tebal yang mengundang polusi. Jelaga dari asap yang keluar tadi juga dituding bisa menyebabkan kanker yang jelas bisa dituduh melanggar Undang-Undang (UU) Udara Bersih di AS. Penerapan UU seperti ini dilaporkan kian tegas dipraktikkan di banyak negara.

Harus diakui, industri mobil tidak memiliki banyak dana untuk bisa mengatasi dampak dari mesin diesel ini. Sementara banyak pembeli mobil, terutama di AS, tetap menghendaki mobil dengan mesin diesel. Bukan hanya karena cukup irit dalam konsumsi bahan bakar, tetapi juga berkaitan harga solar perliternya yang murah. Pajak yang murah di AS, membuat harga solar per liternya lebih murah dari harga seliter air mineral.

Meskipun demikian, industri mobil tetap berniat menghasilkan mobil SUV maupun sedan bermesin diesel dengan tenaga besar, tetapi irit bahan bakar, dan sekaligus ramah lingkungan. Volkswagen AG dan DaimlerChrysler sudah mengatakan akan menjual sejumlah kecil SUV bermesin diesel di pasar AS tahun depan. Sejumlah perusahaan otomotif lainnya, seperti General Motors dan Ford Motor, juga sedang mengembangkan mesin diesel untuk melengkapi mobil SUV keluaran mereka.

Industri otomotif terus didesak untuk menciptakan mobil SUV yang ekonomis dalam konsumsi bahan bakar.

Kalangan industri otomotif berkeyakinan, para pembeli mobil SUV khususnya di AS dan Eropa masih menyukai mesin diesel. \"Apalagi pemilik mobil diesel yang hemat bahan bakar tidak akan menggunakan mobilnya hingga lebih dari 10 tahun,\" ujar Reginald Modlin, Direktur Perencanaan Energi dan Lingkungan pada DaimlerChrysler AS.

Artinya, mobil bermesin diesel masih punya pasar yang menjanjikan. Itu sebabnya kalangan industri otomotif kini berpacu menggunakan mesin diesel. Pihak DaimlerChrysler dilaporkan akan meluncurkan Jeep Liberty berjenis SUV versi diesel awal tahun depan. Penampilannya dan penggunaan mesin diesel yang bertenaga namun hemat bakal menjadi daya tarik bagi pembeli.

Penggunaan mesin diesel akan sangat banyak membantu penghematan bahan bakar. Menurut The Asian Wall Street Journal, apabila sepertiga mobil penumpang AS yang berseliweran di jalan raya menggunakan mesin diesel, AS akan menghemat 1,4 juta barrel minyak setiap harinya. AS sejauh ini mengimpor sebagian besar minyak mentahnya dari Arab Saudi.

Kebijakan penghematan ini mulai diterapkan Gedung Putih. Musim gugur lalu diumumkan tuntutan agar industri mobil menghasilkan SUV, minivan, atau bak terbuka yang hemat bahan bakar mulai tahun 2007. Dari konsumsi yang tadinya satu liter untuk 8,7 kilometer menjadi 9,3 kilometer. Pilihan pun jatuh pada penggunaan mesin diesel.

Kampanye udara bersih

Mesin ciptaan Rudolf Diesel tahun 1890-an ini memang sejak awal dikenal lebih irit. Dengan pasokan udara lebih banyak ke silinder mesin dibandingkan dengan mesin bensin, mesin diesel menghasilkan letupan yang lebih keras, tenaga lebih besar dari setiap bahan bakar yang masuk. Hanya saja kondisi tadi menyebabkan mesin diesel lebih bergetar, kasar, dan lamban. Mesin diesel juga mengeluarkan lebih banyak nitrogen oksida serta asap tebal yang dihubungkan dengan penyebab penyakit pernapasan dan kanker.

Hal-hal ini yang menyebabkan mesin diesel menjadi kurang menarik. Namun, kini, kalangan industri otomotif harus bisa mengatasi berbagai kendala mesin diesel sejalan dengan ketentuan yang ada. Misalnya, kini ditetapkan mesin diesel yang diterapkan pada mobil SUV harus memenuhi batasan standar polusi tahun 2009. Batasan ini terutama menyangkut gas nitrogen oksida.

Ketentuan ini tidak hanya pada mesin diesel saja, tetapi juga pada bahan bakar yang ada. Pihak industri bahan bakar diperintah mengurangi muatan sulfur (belerang) dalam solar. Kadar sulfur ini antara lain yang menyebabkan gas buang dari mesin diesel penuh asap jelaga dan nitrogen oksida.

Volkswagen, penghasil mobil nomor satu di Eropa, boleh dikatakan sudah menaruh perhatian pada penggunaan mesin diesel sejak tahun 1976. Ini terutama berkaitan dengan aksi embargo minyak dari Timur Tengah. Mesin diesel empat silinder VW dimunculkan dan lompatan besar dalam teknologi mesin diesel ini terlihat tahun 1991.

Produsen mobil asal Jerman ini mulai menerapkan turbo guna menambah pasokan udara ke ruang silinder. Di sisi lain, sistem bahan bakar injeksi juga diterapkan sehingga proses pembakaran dalam mesin lebih sempurna. Ini menyebabkan torsi yang dihasilkan semakin baik dan emisi gas buang semakin kecil.

Hasil yang ada adalah efisiensi dalam bahan bakar dan sebuah mesin diesel yang lebih ramah lingkungan. Sebuah mesin diesel pada VW Golf saat ini bisa menempuh 19 kilometer untuk satu liter solar, jauh lebih hemat dibanding 13 kilometer per liter untuk mesin bensin. Hanya saja, kadar nitrogen oksidanya masih tetap tinggi.

Misalnya, VW Tuareg yang menggunakan mesin turbo diesel 10 silinder keluaran terbaru, masih mencatat kadar nitrogen oksida 20 kali lebih banyak dari peraturan udara bersih AS yang akan diterapkan. Ini diakui Richard Dorenkamp, teknisi yang mengepalai operasi diesel VW. Mesin diesel 10 silinder yang disandang Tuareg termasuk yang belum lolos dalam kadar nitrogen oksida.

Oleh karena itu, jika peraturan udara bersih secara bertahap mulai diberlakukan di AS musim gugur ini, produk VW bermesin diesel kemungkinan tak bisa dijual di California, negara bagian yang segera menetapkan ketentuan ini. Bahkan, juga tak bisa dijual di seluruh AS apabila ketentuan ini berlaku secara luas di AS.

Meski demikian, banyak kalangan di AS dan Eropa yakin industri otomotif akan mampu menemukan mesin diesel yang memenuhi standar udara bersih. Laboratorium mesin diesel VW terus melakukan riset pada mesin dieselnya, termasuk mencari campuran udara dan solar yang tepat. Mereka juga berniat memasang sensor elektronik di setiap silinder untuk mengatur injeksi bahan bakar yang pas.

Hal serupa juga dilakukan General Motor (GM). Produsen mobil nomor satu dunia yang mulai menggunakan mesin diesel pada sedan-sedannya sejak tahun 1978 ini mulai memikirkan kembali pengembangan mesin diesel generasi terbaru yang bersih, bertenaga, serta lebih halus. Tahun 2000 lalu, GM mengeluarkan mesin diesel 8 silinder generasi baru yang diterapkan pada bak terbuka Duramax.

Saat bersamaan, GM juga mulai memikirkan kembali mobil sedan bermesin diesel termasuk untuk mobil SUV keluarannya. Mesin diesel 8 silinder pada Duramax dibuat versi 6 silinder dengan tingkat efisiensi bahan bakar 20 persen lebih baik dari mesin bensin. Juga masih sangat ramah lingkungan.

Ke depan mesin diesel akan semakin ramai menjadi mesin penarik kendaraan mulai sedan hingga bus atau truk berat. Kali ini, mesin diesel yang ada tak lagi berisik, bertenaga dengan akselerasi tinggi, hemat bahan bakar, dan jelas tidak lagi mengeluarkan asap hitam apalagi nitrogen oksida. (Pieter P Gero)